Kiai Haji Hasyim Asy’ari dan Kiai Haji Ahmad Dahlan: Dua Sosok Besar, Satu Semangat Persaudaraan
![]() |
| Kisah Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Ahmad Dahlan, dua ulama besar pendiri NU dan Muhammadiyah yang mengajarkan ilmu, perjuangan, kerendahan hati, dan persaudaraan. |
Namun, di balik perbedaan corak gerakan dan tradisi organisasi yang kemudian berkembang, terdapat satu kisah menarik yang patut kembali direnungkan: hubungan persahabatan, persaudaraan, dan tradisi keilmuan yang mempertemukan kedua tokoh tersebut.
Tulisan ini merupakan sebuah refleksi atau opini berdasarkan kisah sejarah yang beredar mengenai perjalanan pendidikan dan hubungan kedua tokoh tersebut. Pesan terpentingnya bukan untuk mempertentangkan NU dan Muhammadiyah, melainkan melihat kembali bagaimana para pendahulu umat Islam mampu membangun perbedaan dengan tetap menjaga persaudaraan.
Dua Tokoh Besar yang Tumbuh dari Tradisi Keilmuan
Kiai Haji Hasyim Asy’ari dan Kiai Haji Ahmad Dahlan sama-sama tumbuh dalam lingkungan pesantren dan tradisi keilmuan Islam yang kuat.
Nama kecil Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwis, sedangkan Hasyim Asy’ari dikenal dengan nama Muhammad Hasyim. Keduanya menempuh perjalanan panjang dalam mencari ilmu, termasuk belajar kepada sejumlah ulama terkemuka di Nusantara dan melanjutkan pendidikan ke Makkah.
Dalam sejumlah kisah yang berkembang, keduanya bahkan pernah berada dalam lingkungan pendidikan yang sama dan berinteraksi sebagai sesama pencari ilmu. Mereka hidup dalam suasana pesantren yang menekankan pentingnya ilmu, adab, penghormatan kepada guru, serta persaudaraan sesama santri.
Hal tersebut menjadi bagian penting untuk memahami bahwa sebelum NU dan Muhammadiyah berkembang menjadi dua organisasi dengan karakter masing-masing, para tokohnya memiliki akar tradisi keilmuan yang saling bersinggungan.
Hasyim Asy’ari dan Keteladanan Akhlak kepada Guru
Salah satu kisah yang menarik adalah hubungan Kiai Hasyim Asy’ari dengan gurunya, Kiai Haji Muhammad Kholil Bangkalan.
Dalam kisah yang disampaikan secara turun-temurun, Kiai Kholil pernah menunjukkan kerendahan hati dengan menempatkan dirinya sebagai murid kembali di hadapan Kiai Hasyim. Kiai Hasyim justru tidak merasa lebih tinggi. Ia tetap menempatkan gurunya sebagai sosok yang harus dihormati.
Kisah tersebut menggambarkan satu prinsip penting dalam tradisi keilmuan pesantren: semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hati pula sikapnya.
Tidak mengherankan apabila Kiai Hasyim kemudian dikenal sebagai salah satu ulama besar yang memiliki pengaruh luas. Pesantren Tebuireng yang didirikannya berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam penting di Jawa.
Banyak tokoh besar kemudian lahir dari lingkungan keilmuan tersebut.
Tebuireng dan Lahirnya Banyak Ulama Besar
Kiai Hasyim Asy’ari bukan hanya dikenal sebagai pendiri dan tokoh penting NU. Ia juga merupakan seorang ulama yang memiliki perhatian besar terhadap ilmu-ilmu keislaman, khususnya hadis.
Kajian keilmuan yang dilakukannya menarik perhatian banyak santri dari berbagai daerah. Dari lingkungan pendidikan Tebuireng kemudian lahir sejumlah ulama dan tokoh nasional.
Di antara nama yang sering dikaitkan dengan tradisi keilmuan Tebuireng adalah Kiai Haji Abdul Wahab Hasbullah, Kiai Haji Bisri Syansuri, Kiai Haji Raden As’ad Syamsul Arifin, KH Abdul Wahid Hasyim, hingga KH Ahmad Shiddiq.
Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh seorang ulama tidak hanya diukur dari seberapa banyak murid yang hadir di pesantrennya, tetapi juga dari seberapa besar ilmu dan nilai yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ahmad Dahlan dan Gerakan Pembaruan
Sementara itu, Kiai Haji Ahmad Dahlan mengambil jalan gerakan yang kemudian melahirkan Muhammadiyah.
Pemikirannya banyak memberikan perhatian terhadap pendidikan, pembaruan pemahaman keagamaan, dan persoalan sosial masyarakat. Muhammadiyah kemudian berkembang menjadi organisasi yang memiliki kontribusi besar dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan dakwah.
Pada titik inilah sejarah memperlihatkan sesuatu yang menarik. Dua orang yang memiliki latar belakang keilmuan yang saling bersinggungan ternyata kemudian mengembangkan gerakan dengan karakter yang berbeda.
Perbedaan tersebut tidak harus dipahami sebagai permusuhan. Justru, jika melihat sejarah secara lebih luas, perbedaan pendekatan dapat menjadi kekayaan bagi perkembangan umat.
Perbedaan Pemikiran Tidak Harus Berujung Permusuhan
Perjalanan sejarah Islam Indonesia memang mencatat adanya perbedaan pandangan antara kelompok yang mempertahankan tradisi mazhab dan kelompok yang lebih menekankan pembaruan.
Perdebatan mengenai praktik keagamaan, pendidikan, dan metode memahami ajaran Islam kemudian menjadi bagian dari dinamika umat.
Dalam konteks tersebut, lahirlah berbagai gerakan dan organisasi dengan karakter masing-masing. NU kemudian berdiri pada 31 Januari 1926, sedangkan Muhammadiyah telah berdiri lebih dahulu pada 18 November 1912.
Keduanya kemudian menjadi kekuatan besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Namun, satu hal yang sering terlupakan adalah bahwa perbedaan organisasi tidak berarti harus menghapus persaudaraan.
Inilah pelajaran penting yang menurut penulis sangat relevan untuk masyarakat Muslim Indonesia saat ini.
Dua Jalan, Satu Tujuan Besar
Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Ahmad Dahlan memiliki cara yang berbeda dalam merespons persoalan umat. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah dengan semangat pembaruan dan penguatan pendidikan serta pelayanan sosial.
Hasyim Asy’ari bersama para ulama pesantren mendirikan NU sebagai wadah yang menjaga tradisi keilmuan ulama dan kehidupan keagamaan masyarakat pesantren. Keduanya tentu memiliki pendekatan yang berbeda.
Tetapi perbedaan pendekatan tersebut tidak seharusnya membuat umat kehilangan tujuan yang lebih besar: membangun masyarakat yang berilmu, berakhlak, dan dekat dengan nilai-nilai Islam.
Dalam perspektif inilah NU dan Muhammadiyah dapat dilihat bukan semata-mata sebagai dua kelompok yang berbeda, melainkan sebagai dua kekuatan besar yang ikut membentuk wajah Islam Indonesia.
Belajar dari Kerendahan Hati Para Ulama
Ada pelajaran yang jauh lebih penting daripada sekadar memperdebatkan siapa yang paling benar. Para ulama terdahulu menunjukkan bahwa ilmu harus berjalan bersama akhlak.
Kiai Hasyim memberikan contoh bagaimana seorang ulama besar tetap menghormati gurunya. Ahmad Dahlan juga menunjukkan bagaimana ilmu harus diterjemahkan menjadi gerakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dari sini kita dapat melihat bahwa kebesaran seorang tokoh bukan hanya terletak pada organisasi yang didirikannya, tetapi pada nilai yang diwariskannya.
Hari ini, ketika perbedaan pendapat begitu mudah berubah menjadi pertengkaran di ruang publik dan media sosial, keteladanan tersebut terasa semakin penting.
NU dan Muhammadiyah Tidak Harus Saling Menjauh
Menurut penulis, kisah Hasyim Asy’ari dan Ahmad Dahlan seharusnya menjadi pengingat bahwa warga NU dan Muhammadiyah tidak perlu melihat perbedaan sebagai alasan untuk saling bermusuhan.
Keduanya merupakan bagian dari sejarah panjang perjalanan Islam Indonesia.
Perbedaan dalam persoalan furu’iyah, metode dakwah, pendidikan, maupun organisasi merupakan bagian dari dinamika umat. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana perbedaan tersebut tetap berada dalam bingkai persaudaraan.
Kita boleh berbeda organisasi, tetapi tidak harus berbeda dalam persaudaraan.
Kita boleh memiliki tradisi keagamaan yang berbeda dalam beberapa persoalan, tetapi tetap dapat bekerja bersama dalam pendidikan, kemanusiaan, sosial, kebangsaan, dan pembangunan masyarakat.
Sosok yang Patut Diteladani
Kiai Haji Hasyim Asy’ari wafat pada 25 Juli 1947 dan kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional atas jasa-jasanya bagi bangsa dan negara.
Warisan terbesar beliau bukan hanya NU, tetapi juga tradisi keilmuan, pesantren, perjuangan, dan keteladanan akhlak.
Sementara itu, warisan Kiai Haji Ahmad Dahlan tidak hanya berupa Muhammadiyah, tetapi juga sistem pendidikan, gerakan sosial, dan semangat pembaruan yang terus berkembang hingga hari ini.
Dua sosok tersebut telah melewati zamannya.
Namun pemikiran, perjuangan, dan keteladanan mereka masih dapat menjadi bahan renungan bagi generasi sekarang.
Penutup: Persaudaraan Lebih Besar daripada Perbedaan
Sejarah Hasyim Asy’ari dan Ahmad Dahlan memberikan sebuah pesan sederhana tetapi sangat dalam: perbedaan tidak selalu berarti pertentangan.
Keduanya menempuh perjalanan ilmu, berguru kepada ulama, mengenal tradisi keislaman yang kuat, kemudian mengambil jalan perjuangan masing-masing.
Jika generasi terdahulu mampu membangun perbedaan dengan ilmu dan akhlak, maka sudah semestinya generasi sekarang juga mampu melakukan hal yang sama.
Karena pada akhirnya, yang perlu kita warisi bukan hanya nama besar NU atau Muhammadiyah, tetapi juga semangat mencari ilmu, menghormati guru, rendah hati, menjaga persaudaraan, dan memberikan manfaat bagi umat serta bangsa.
Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Ahmad Dahlan mungkin menempuh jalan organisasi yang berbeda, tetapi keduanya meninggalkan warisan yang sama pentingnya: ilmu, dakwah, perjuangan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Catatan redaksional: Penulis sengaja mengubahnya dari transkrip video menjadi artikel opini & sosok, sekaligus menghindari menyajikan seluruh klaim dalam transkrip sebagai fakta sejarah yang pasti. Beberapa bagian dalam sumber asli tampak memerlukan verifikasi sejarah, terutama soal tanggal, hubungan guru, nasab, dan detail praktik ibadah.

Posting Komentar untuk "Kiai Haji Hasyim Asy’ari dan Kiai Haji Ahmad Dahlan: Dua Sosok Besar, Satu Semangat Persaudaraan"